Mengulas Musikalisasi Pusi

                      Dalam penampilan musikalisasi puisi  pada tanggal  08 Maret 2018 menampilkan  tiga karya puisi. Puisi yang pertama Gerilya karya WS Rendra yang kedua Membaca Tanda-Tanda karya Taufik Ismail dan yang terakhir Puisi Kota dan Kehilangan karya bapak kita.  Idealnya menikmati puisi adalah  menyimak pembacaan puisi tersebut. Oleh karena itu, pembaca puisi harus dapat menggambarkan perasaan, situasi, kondisi, dan peristiwa dalam puisi yang akan dibawakannya. Dalam penampilan yang dibawain  oleh anak Teater Atmosfer Kendal  mampu melahirkan adegan, seolah–olah pendengar ikut masuk dalam bayangan sesuai dengan isi dan makna puisi.
                 Penyaji  puisi Anak Teater Atmosfer Kendal teridiri dari empat anggota, karena ini musikalisasi puisi ada dua orang yang memainkan alat musik aitu gitar dan konga sesuai irama dalam setiap larik puisi. Sedangkan yang dua lagi membacakan puisi dengan penjiwaan yang bagus. Lafal(artikulasi), yang berkaitan dengan pengucapan kata-kata bahasa indonesia selama ini kerap dipengaruhi oleh bahasa daerah. Hal itu harusnya dihindari oleh salah satu pembaca, karena akan merusak keindahan puisi yang akan dibacakan. Untuk pengucapan kata-kata sudah tepat. Artikulasi dalam musikalisasi puisi sangat erat dengan intonasi atau lagu kalimat.  Intonasi yang disampaikannya sendiri sudah berkaitan dengan ketepatan dalam menentukan keras-lemahnya suara  juga tepat. Hal itu mampu untuk membawa pendengar  untuk larut dalam penampilannya.
                 Irama juga yang menjadi hal penting dalam membacakan sebuah puisi. Dalam penampilannya irama tinggi rendah, keras lembut, dan panjang suara sangat pas dengan di padu padankan dengan alat musik. Volume atau kekuatan suara dari pembaca sangat nyaring. Suara tinggi yang mampu membawa penonton mampu menggambarkan keriangan, marah, takjub, dan lain-lain. Sementara itu ada  juga suara rendah yang menggambarkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa dalam isi puisi yang di sampaikan. Penyaji musik dengan menggunakan konga dan gitar  nadanya sangat cocok dengan larik dan  isi puisi yang di bawakan si pembaca.
                 Ekspresi dalam pernyataan perasaan atau penjiwaan  isi puisi masih kurang. Hal itu akan lebih baik apabila dalam membacakannya wajah pembaca tidak di tutupi oleh kertas. Masih sering terlihat si pembaca menutupi wajahnya dengan kertas yang berisi larik puisi. Namun, penjiwaannya sudah  lumayan bagus dilakukan dengan menginterpretasikan makna puisi tersebut dengan tepat.  Tak sembarang  orang mampu dengan mudah membacakan larik-larik puisi jika belum memiliki wawasan dan pengalaman batin yang mendalam.  Apabila penafsiran maknanya keliru, penjiwaanya juga tidak akan mengena dan masuk ke  imajinasi penonton.
                 Pembawaan penyaji Teter Atmosfer  Kendal mampu terungkap lewat mimik  atau gerak raut wajah serta olah tubuh yang  bagus dan sesuai dengan irama. Lighting panggung dan dekorasi panggung juga sangat mendukung berjalannya musikalisasi puisi dengan apik   dan cukup menarik. Penyampaian ekspresi juga dilakukan dengan wajar dan tidak berlebihan. Intinya  Penyajian musikalisasi puisi ini sangat menarik dan berhasil membawa penonton untuk masuk dalam imajinasi dan menggambarka makna puisi tersebut. Kemelut dalam benak batin orang per orang sulit untuk bisa tergambarkan jika tidak ditulis atau dilukis. Seorang penulis menuliskannya, bisa secara spontan, bisa pula dengan ditulis lebih dahulu lalu mengendapkannya ataupun memilah kata-kata untuk sebuah karya. Dalam ketiga larik puisi ini sudah sesuai untuk dijadikan sebuah karya yang mampu diperkenalkan ke semua orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini